Hotel Aryaduta

Di Dekat Pantai Losari

Trans Studio Makassar

First Biggest Indoor Theme Park

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Wednesday, September 26, 2012

Titipan Manis Dari Sahabat

Nurul, panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tomboy itu, sangat berbeda dengan karakter Caca yang feminim dan lugu. Mereka bertemu di salah satu asrama di sekolah mereka.
Saat dihari jadi Caca, Nurul pamit ke pasar malam untuk mengambil sesuatu yang sudah dipesan buat sahabatnya itu. Caca menyetujuinya, dia pun menunggu Nurul hingga tengah malam menjelang. Caca yang mulai khawatir terhadap Nurul menyusul kepasar malam, hingga dia melihat yang seharusnya dia tidak lihat . Apa yang dilihat Caca? Dan apa yang terjadi dengan Nurul?
  “Aku luluuuuuus…” Teriak beberapa orang anak saat melihat papan pengumuman, termasuk juga Marsya Aqinah yang biasa disapa Caca.
               “Ih…nggak nyangka aku lulus juga, SMA lanjut dimana yah?” Ujarnya kegirangan langsung memikirkan SMA mana yang pantas buat dia.
               “Hai Ca, kamu lanjut dimana ntar?” Tanya seorang temannya
               “Dimana ajalah yang penting bisa sekolah, hehehe” Jawab Caca asal-asalan
               “Oooo…ya udah, aku pulang dulu yah”
               “Yah, aku juga dah mau pulang”
Sesampainya dirumah Caca…
               Caca memberi salam masuk rumahnya dan langsung menuju kamar mungilnya. Dalam perjalanan menuju kamarnya, dia melihat Ayah dan Ibunya berbicara dengan seorang Udstazt ntah tentang apa. Caca yang cuek berjalan terus kekamarnya. Tak lama kemudian Ibu Caca pun memanggil….
               “Caca…Ayah ma Ibu mau bicara, cepat ganti baju nak”
               “Iya bu, bentar lagi” Jawab Caca dari dalam kamarnya.
               Akhirnya Caca pun keluar…
               “Napa bu?” Tanya sambil duduk disamping Ibunya
               “Kamu lulus?” Tanya Ibunya kembali
               “Iya dong bu, nama Caca urutan kedua malah. Pasti Caca bebas tes kalo masuk di sekolah ternama deh” Jawab Caca percaya diri
               “Alhamdulillah, ehm…” Ucapan Ibu terhenti sejenak
               “Kenapa bu? Bukankah itu bagus?” Tanya Caca lagi sambil melihat Ibunya
               “Gini nak, kamu dak mau masuk asrama?” Tanya Ibu Caca sangat hati-hati
               “Loh ko’ ada asrama-asramaan sih bu?” Ujar Caca yang tanggapannya tentang asrama kurang bagus
               “Di asrama itu bagus Ca, bisa mandiri dan yang lebih bagus lagi bisa tinggal bareng teman-teman, tadi udstdz tadi ngomong kalo pendidikan agamanya disekolah asrama juga bagus” Kata Ayah Caca menjelaskan dan berusaha mengambil hati anaknya itu
               “Yaaaah ayah, terserah deh” Ucap Caca pasrah tidak ada niat untuk melawan ayahnya tersayang
               2 bulan telah berlalu, setelah mengurus semuanya untuk memasuki asrama…
               Caca pun memasuki sekolah asrama yang telah diurus oleh Ayahnya, Caca berjalan di serambi-serambi asrama bareng Ayah dan Ibunya menuju asrama yang telah ditunjukkan untuknya. Akhirnya sampai juga….
               “Ayah, ini asrama Caca?” Tanya Caca dengan raut wajah yang tidak setuju
               “Iya, kenapa?” Jawab Ayah Caca dan kembali bertanya
               “Tidak kenapa-napa ko’, namanya juga belajar mandiri” Ucap Caca tidak menginginkan kata-katanya menyinggung Ayahnya.
               “Jadi ayah tinggal nih?”Ujar Ayah Caca
               “Iya ayah, Caca kan mau mandiri masa’ Caca nyuruh ayah nginap juga sih?” Kata Caca sedikit bercanda
               “Ya Udah, Ayah tinggal dulu”
               “Baik-baik ya anak Ibu, jangan nakal” Ujar Ibu berpesan
               Akhirnya beliau pergi juga setelah cipika cipiki, sekarang tinggal Caca yang merasa asing terhadap penghuni kamar 2 itu. Ada 4 orang termasuk Caca, yang 2 orang lainnya pun merasa seperti yang dirasakan Caca, kecuali cewe’ ditempat tidur itu kaya’nya dia senior deh.
               “Hai..Siswi baru juga yah?” Tanya Caca ke seorang yang agak tomboy tapi berambut panjang lurus
               “Hai juga..Iyah aku baru disini, namaku Nurul Utami, bisa dipanggil Nurul dan itu kaka’ aku Salsabila udah setahun disini” Jawab orang itu menjelaskan tanpa diminta dan mengaku dirinya bernama Nurul, sambil menunjuk kearah seorang yang tidur-tiduran tadi.
               “Aku Marsya Aqinah, bisa dipanggil Caca. Ooo pantas reaksinya biasa-biasa aja ama nih kamar, trus yang ntu sapa?” Tanya Caca lagi sambil menunjuk ke orang yang lagi asik membereskan baju-bajunya kelemari mungilnya
               “Ntah lah, orang baru juga tuh” Jawab Nurul berjalan mendekati orang yang dimaksud Caca
               “Hai aku Nurul, itu temanku Tata dan itu kaka’ku Salsa, kamu siapa?” Tanya Nurul dengan cerewetnya plus asal-asalan.
                “Woi…aku Caca, bukan Tata” Teriakku protes sambil manyun-manyun
                “Iya..iya.., itu Caca. Kamu belum jawab nama kamu sapa?” Tanya Nurul lagi
                “Aku Miftahul Jannah, bisa dipanggil Mita” Jawab Mita dengan senyuman yang muanis sangat. Nurul pun membalas senyum itu dengan senyuman yang hangat pula dan sikap yang sangat bersahabat.
               Sekarang Caca tau kenapa dia akan betah di kamar asrama ini, yah karena ada Nurul yang gokil banget. Suatu ketika Caca lagi nggak semangat, pasti ada Nurul dengan sikap konyolnya membuat Caca tertawa. Dan disaat Caca lagi mengalami kasmaran ada Nurul sebagai teman curhatnya. Seperti saat ini….
               “Rul, ada nomer baru neh masuk dihape aku, katanya nama dia Ical, dia kenal aku dah lama dan sekarang dia cari rimba aku dimana gitu” Cerita Caca membuat Nurul kelepasan
               “Ha..ha..ha..ha..ha..ha.., beritahu aja dari hutan rimba”
               “Nurul, aku serius tau”
               “Aku duarius, ha..ha..ha”
               “Nurul kamu ngebete’in”
               “sori.. sori.., gini.. kamu jangan langsung termakan gombal dia gitu, ntar dijahatin baru tau rasa” Ucap Nurul menasehati, mirip ibu-ibu ‘hihihi’
               “Ntar kalo aku termakan gombal, yah minum ajah teh botol sosro” Ujar Caca dengan lagak menirukan iklan yang di TV dan bisa membuat Nurul jengkel
               “Kamu ini diseriusin malah becanda”
               “Duluan juga kamu Rul, ha..ha..ha..” Kata-kata Caca rupanya membuat malapetaka bagi dirinya itu, yakni dengan adanya serbuan bantal dari Nurul. Kedua sahabat itupun saling lempar-lempar bantal hingga akhirnya mereka kecapean dan tertidur juga.
               “Damainya dunia kalo mereka tidur” Ujar Salsa kaka’ Nurul yang dari memperhatikan mereka
Seminggu kemudian……..
               “Nuruuuul, tau ga’ aku jadian ma Ical pagi ini. Rupanya tuh orang temen aku dari SMP, aku jadiannya di café punya Meri, ih senang deh” Cerita Caca
               “Eh cepat banget, tapi baguslah,ehmm awas kalo dia kurang ajar, ntar aku yang ngajarin dia, he..he..he..” Tanggap Nurul senyum-senyum
               “Siplah, eh Ical punya teman cuakep abis, aku comblangin ke kamu yah” Usul Caca
               “Nggak Ah, masih senang dengan masa juomblo” Kata Nurul
               “Jomblo, bukan juomblo” Ucap Caca membenarkan
               “Iya…iya…yang itulah, he..he..he..” Kata Nurul
               “Kamu harus kenalan ma Ical, supaya sahabatku bisa ngedukung sepenuhnya” Ujar Caca
               “iya..iya.. Ntar kalo dia nelfon, kenalin aja ke aku” Ucap Nurul mengangguk-angguk
Begitu seterusnya, Caca curhat terus tentang Ical ke Nurul, memperkenalkan Ical ke Nurul, hingga tak terasa berjalan 2 bulan
               “Nuruuuuuuuuuuuuul… bangun bangun banguuuuun, dah magrib” Teriakan Caca ditelinga Nurul itu betul-betul memekakan telinga.
               “Apaan sih Ca? Udah bangunin orang tanpa pamit, belom gosok gigi lagi” Ujar Nurul jengkel
               “Sori dori ye…ini Rul si Ical sms neh katanya ada kejutan buat aku. Duh apa yah?” Tanya Caca nutup mukanya sendiri
               “Meneketehe…” Jawab Nurul cuek abis angkat bahu
               “Ih Nurul, tanggapin donk. Buat sahabat kamu dikit senang bisa nggak sih?” Kata Caca mengguncang tubuh Nurul
               “Caranya?” Tanya Nurul sambil menguap
               “Puji ke’ ato apalah, yang penting aku bisa senang giitu” Jawab Caca milih-milih
               “o iya, ada cara” Kata Nurul tiba-tiba
               “Nah tuh kan ada” Ujar Caca menunggu sambil senyum-senyum
               “Iya ada, bantu beresin lemari buku aku” Ucap Nurul membuat Caca manyun
               “Ga da yang lain yah?” Tawar Caca
               “Ga da, ayolah Ca… Aku juga punya kejutan buat kamu besok, gimana?” Ucap Nurul kembali menawar sambil bangun dari tempat tidurnya
               “Okelah…demi kejutan” Kata Caca menyetujui
Mereka berdua pun membereskan lemari buku milik Nurul. Terlihat Nurul memutar otaknya, memikirkan apa yang akan diberikan untuk sahabatnya besok. Yah besok hari jadi Caca yang ke-17 biasa juga disebut sweet seventeen, dimana Caca memasuki awal umur yang dewasa, jadi harus sesempurna mungkin. Sementara itu Caca yang selagi membereskan buku-buku Nurul dengan susunan yang rapi, sinar matanya malah terpaut pada satu buku lucu, imut dan wow…! warna pink, kesukaan Caca banget. Caca tidak menyangka kalau Nurul peranakan tomboy itu pelihara buku yang imut banget. Caca mengambil buku itu dan membaca sampulnya “My DiarY”. Caca senyum-senyum, pikirnya bahwa bisa juga cewe’ setomboy Nurul punya diary.
               “Rul, diary kamu nih?” tanya Caca
               Nurulpun balik “Iya…diary aku banget”
               “Buat aku ya Rul” Pinta Caca dengan sejuta raut wajah imutnya
               “Kamu mau?” Tanya Nurul
               “Ya iyalah, ga’ mungkin dong aku minta kalo aku kaga’ mau” Jawab Caca berpanjang lebar
               “Ntar aku selesaiin isinya baru aku kasi ke kamu” Ujar Nurul
               “Ayolah Rul” Rengek Caca yang super manja
               “Aku janji Ca, buku tuh pasti kamu miliki. Sini bukunya” Pinta Nurul usai berjanji
               “Nurul pelit” Kata Caca ngambek
               “Aku kan dah janji Ca”
               “Janji yah?” Ujar Caca meyakinkan sambil mengacungkan kelingkingnya
               “Janji..! Lanjut yuk” Kata Nurul Sambil mengapit jari Caca dengan jari kelingkingnya
               “Iyah…Eh, Rul besok ada PR. Kamu dah jadi belom?” Tanya Caca kemudian
               “Belom, aku nyontek punyamu boleh?”
               “Ya boleh lah”
               “Aku juga titip besok dikumpulin, boleh?”
               “Boleh…eh mangnya kamu mau kemana Rul?” Tanya Caca lagi
               “Anak kecil ga boleh tau” Jawab Nurul
               “Uh…k’ Salsa, Nurul besok mau kemana?” Tanya Caca ke Salsa yang sedang tidur-tiduran
               “Ga tau juga” Jawab Salsa angkat bahu
               “Berarti k’ Salsa anak kecil juga donk, hi..hi..hi..” Bisik Caca sambil cekikikan
               “Udah, kalian tidur. Ntar penjaga asrama kontrol, tau ga tidur dimarahi loh” Ujar Salsa
               “Eh…Mita dimana k’?” Tanya Nurul ke Salsa
               “Tadi pamit ke asrama sebelah nginap” Keburu Caca jawab
               “Sapa juga yang nanya kamu?”Tanya Nurul
               “O…bukan aku yah? Abis panggil kaka’ sih, kira aku. He..he..he” Kata Caca
               “Anak kecil bisanya ngerasa doank” Ujar Nurul mencibir
               “Biarin…weak…aku bobo duluan yah?”Kata Caca sambil menguap dan bersiap-siap ditempat tidurnya
               “Akhirnya tenang juga” Ucap Nurul seakan-akan kekacauan sudah berakhir. Diapun bergegas ke tempat tidurnya dan membuka buku diarynya, dia menulis sesuatu dibukunya itu. Malam semakin larut, Nurul melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 01.30, lama kemudian akhirnya tertidur juga sesudah dia merapikan buku diarynya dan menyimpan di bawah bantalnya.

Keesokan harinya…….
              Hari itu tampak cerah, Caca pergi kesekolah tanpa ditemani Nurul tidak seperti kemarin-kemarin. Nurul mesti pergi kesuatu tempat yang penting dan Caca tak boleh tau rencananya itu. Caca disekolah yang sebangku dengan Nurul mesti memeras otak sendiri tanpa ada teman yang diajak diskusi. Sampai bel pulang sekolah pun berbunyi, belum ada kabar dari Nurul. Salsa yang ditanya hanya angkat bahu.
               “Duh dah sore gini ko’ Nurul belum hubungi aku sih?” Gumam Caca sambil mencet-mencet hape dan ketika nomor Nurul yang didapat, Caca pun berniat menelpon
               “Nomor yang anda tuju…..” Jawaban telpon di seberang langsung ditutup oleh Caca sambil berceloteh “Operator, dimana tuh orang? Nomer dak diaktifin lagi”
               Caca pun masih sabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Nurul nih” Ujarnya sambil narik swetearnya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Caca naik angkot ke pasar malam, dalam perjalanan pun dia rasa melihat 2 seorang yang sangat dia kenal di sebuah cafe. Caca langsung turun dengan muka yang merah padam menahan marah, setelah membayar angkot. Caca langsung menuju tempat duduk 2 orang tadi.
               “Nurul!!! Ical!!! ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke aku terkejut, sangat terkejut!!! Ical kita putus, dan kamu Rul. Percuma aku khawatirkan orang yang rebut pacar sahabatnya sendiri” Gertak Caca blak-blakan tanpa memberi kesempatan Nurul dan Ical bicara, Caca langsung pergi dari café itu dan naik angkot pulang keasramanya.
               Caca tak mau tau lagi apa yang akan terjadi setelah ini, Caca tiba diasrama dan langsung mehempaskan diri ketempat tidurnya sambil menangis sekuat dia, Salsapun berniat mendekat tapi bersamaan dengan itu, hape Salsapun berbunyi.
               “Halo?” Ujar Salsa yang tampak berbicara serius dengan penelpon diseberang
               “Iyah saya segera kesana” Kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelpon tadi dan bergegas memberitahukan Caca
               “Ca, Nurul lagi……” Kata-kata Salsa terputus saat Caca memberi tanda untuk menyuruh Salsa pergi. Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Caca tak tau apa alasannya yang jelasnya saat itu Caca merasakan sangat sakit didadanya. Salsa yang bergegas naik angkot itu sengaja mengirim pesan singkat ke hape Caca
               Triiit…triiit… Caca mengambil hapenya dan membaca isi pesan itu
               “Ca, Nurul masuk UGD, kalo kamu mau datang, langsung saja di RS Urip Sidoarjo ruang UGD”
               Caca mulai khawatir, biar bagaimana pun Nurul masih sahabatnya, dia langsung melupakan sakit yang tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan Salsa.
Sepanjang perjalanan Caca berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir sambil bergumam, “Nuruuul, kenapa sih kamu tega hianati aku?, kita memang sering becanda tapi ini lain, Rul. Aku sakit saat aku tau kamu hianati persahabatan kita. Sekarang ada kejutan apa lagi? Tadi aku liat kamu baik-baik aja bareng Ical, tapi kamu ko bisa masuk UGD sih? aku harap ini bukan permainan kamu semata hanya untuk minta maaf padaku. Ini tidak lucu lagi”

Sesampainya dirumah sakit……
               Caca langsung berlari menuju ruang UGD, Caca mendengar tangisan histeris yang keluar dari mulut Salsa.
               “Ada apa ini?” Gumam Caca yang membendung air mata, dia memasuki ruangan itu. Pertama dia melihat Ical dengan sebuah bungkusan imut ditangannya, “Pasti dari Nurul” pikir Caca. Sakit hatinya kembali muncul, lama dia pandang Ical hingga Ical berusaha mendekatinya tapi dengan tatapan sinis memendam rasa benci, Caca meninggalkan Ical yang matanya telah sembab. Cacapun berpikir bahwa sandiwara apa lagi yang Ical perlihatkan ke dia. Caca menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan menuju tempat tidur yang terhalang tirai serba putih, Cacapun mengibaskan tirai itu, dia lihat disitu ada Salsa dan……
               “Nuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul……” Teriak Caca histeris, serasa remuk tulang-tulang Caca saat melihat ditempat tidur diruangan UGD itu, terbaring seorang gadis tomboy, muka mulus tak tampak lagi, malah yang nampak hanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak bisa dikenali, bersimbah darah tak bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan merah yang mengalir dari kepala tuannya, jilbab yang tadi di kenakannya pun tak nampak warna dasarnya karena percikan darah. Caca memeluk sahabat yang paling disayanginya itu, ada rasa sesal dalam hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa yang terjadi sebelum dia kelewat emosi?.
               Sesaat itu ada yang menggenggaman hangat lengannya, Caca tak menghiraukan, yang Caca pikirkan adalah rasa sesal dalam benaknya. Pemilik genggaman itupun menarik dan memeluknya, kemudian memberikan bingkisan imut yang ada ditangannya.
               “Nih bingkisan buat kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Nurul dan baru dapat diluar kota, aku mengantar Nurul karena aku juga ingin memberikan kejutan kecil-kecilan buat kamu, tapi kamu datang saat aku dan dia merencanakan acara kejutan buat kamu” Jelas Ical sambil memeluk Caca yang semakin berlinang air matanya saat mengetahui apa isi dari bingkisan itu, buku diary imut, warna pink sesuai yang dijanjikan Nurul
               “Katanya kamu sangat menginginkan buku yang seperti miliknya, nah ini tandanya dia sangat sayang sahabatnya dan ga mau mengecewakan sahabatnya itu. Tapi tadi waktu kamu salah tanggap tentang di café itu, dia merasa bersalah banget, soalnya dia ga pamit dulu ke kamu sebelum minta bantuan ke aku. Dia panik karna takutnya kamu akan menganggap dia penghianat, akhirnya diapun mengejarmu tanpa peduliin ramainya kendaraan dan bus itu…………” penjelasan Ical terputus, dia tidak sanggup lagi meneruskan cerita tragis yang menimpa sahabat mereka itu. Caca pun masih membiarkan air matanya tetap mengalir di pipinya semakin deras.
               “Rul, napa mesti kamu jadi korban egonya aku?, sapa lagi dong yang dengerin curhat aku?, sapa lagi yang bisa aku ejek? perang bantal kita juga mesti dilanjut Rul, belum ada yang juara neh, he..he.., eh aku juga mau ngasih contekan kekamu ko’, Rul bangun dong…jangan becanda, ini ga lucu lagi. Sumpah ini ga lucu, Rul bangun, kamu napa sih? sukanya buat aku panik. Rul bangun dong” Ujar Caca setelah melepaskan pelukan Ical, senyum dan berbicara sendiri setelah itu kembali Caca memeluk jasad sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan memberikan sebuah buku diary milik Nurul
               “Kata Nurul, kalo dia tidak dapet buku yang mirip punya dia, buku diarynya ini buat kamu” Ujar Salsa
               Cacapun membuka buku kecil itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka beberapa lembaran berikutnya, hingga Caca pun membaca tulisan Nurul paling akhir.

13 Mei 2003, 01.00 pagi
Dear Diary….. 
Aku dah dapet sahabat, kasih sayang sahabat. Tapi aku tak dapat memberikan apapun untuk sahabatku itu, ini hari jadi dia, dan dia menginginkan kamu diary, mungkin saja suatu saat aku berikan kamu ke dia, tapi itu suatu saat, hanya saja aku harus cari yang mirip denganmu untuk sahabatku. Aku minta tolong ke Ical mungkin juga dak apa-apa yah diary, diakan pacar sahabat aku berarti dia juga sahabat aku dong. Hahaha….hanya sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kamu diary, mau tak mau aku harus ngasih kamu kedia. Nyawa akupun boleh yang penting sahabat aku senang, hahaha, Lebaaaaaaaay. Ya udah dulu diary aku ngantuk neh…
Ga’ kelupaan “MET ULTAH CACA, MY FRIENDSHIP”
 
Nurul

               Caca menutup diary Nurul, semakin berlinang air mata Caca. Yah apapun yang Nurul akan beri untuk Caca, bahkan nyawanya seperti sekarang yang Caca alami. Nurul takut kalo Caca menganggap dirinya berkhianat karena sudah lancang mengajak Ical untuk mengantarnya, hingga dia tak pedulikan lagi ramainya kendaraan dijalan yang membuat dirinya menghadap sang Ilahi.
               Esok harinya, jasad Nurulpun dimakamkan dikampung halamannya. Setelah dikebumikan, Caca mengusap kembali nisan sahabatnya sambil berlinang air mata. Tertulis dinisan itu “Nurul Utami binti Muh. Awal, Lahir 14 Mei 1989, Wafat 13 Mei 2003”, sehari sebelum hari jadinya.
               “Nurul, sahabat macam apa aku, hari jadi kamu pun aku tak tau, Rul selamat ulang tahun yah, hanya setangkai bunga dan kiriman doa yang dapat aku beri ke kamu, istirahat dengan tenang yah sahabatku” Ujar Caca sambil berdoa dan kemudian meninggalkan gundukan tanah yang masih merah itu.

##SELESAI##

Sunday, September 23, 2012

Jilbab Putih

Sebuah cerpen  yang latar belakangnya bersifat religius. Buat kamu yang kepengen rasa baru sebuah cerpen dengan tema percintaan yang berbeda, sepertinya cerpen berjudul “Jilbab Putih” ini wajib kamu baca sampai tamat.

Udara panas serta angin membawa debu berhamburan di latar sebuah rumah dan beberapa rumah di sekelilingnya. Daerah Klaten tepatnya desa Mandungan, bulan agustus di desa tersebut sangatlah miris, air sulit dicari. Hari ini begitu panas, memang bulan-bulan ini sedang musim kemarau, yang menyebabkan udara dan hawa di luar rumah sangat tidak mengenakkan. Maka dari itu, desa Mandungan sangat sepi, tidak ada orang = maksudnya tidak ada, benar-benar tidak ada yang di luar rumah. Setiap orang pastilah sangat enggan keluar rumah karena hal tersebut.
Di sebuah rumah jawa bercat biru muda, merupakan salah satu rumah sederhana di desa itu, ada sedikit gemuruh.
“Pak, aku ndak ikut saja, aku kesel  tenan!”  Ucap wanita muda memakai kaos merah muda dan bercelana jeans itu di ruang tamu.
“Bu?? Ayo, buruan tema-teman di pemancingan sudah menunggu! cepatlah sedikit!” Jawab seorang pria sedikit agak tua kepada wanita tersebut.
“Aku capek pak harus jadi penghibur di pemancingan itu, bayak tamu yang nggak sopan kepadaku!” ucap wanita itu kembali.
“Bu Halimah, istriku sayang! Buruan ta!!” Ucap pria itu sedikit menggertak.
“Ii…iya pak! Maaf. Yuk, kita berangkat.”
Akhirnya Halimah dan suaminya segera meninggalkan rumah dengan sepeda motor Revo nya. Mereka berjalan menyusuri jalan Jogja-Solo yang sangat panas.
“Tuhan, aku ingin bebas!” Halimah berkata dalam hati.
Halimah membuka tas merahnya dan mengambil sesuatu dari dalam tas tersebut, sebuah Al-Quran.
“Andai aku bias membacanya, andai aku seorang muslim yang dapat membaca tulisan ini dengan nada-nada indah! Aku ingin sekali Tuhan!” Kembali Halimah berkata dalam hati dan berfikir.
Di sepanjang jalan menuju pemancingan dimana Halimah bekerja dengan suaminya, Halimah hanya diam, tak banyak bicara satu kata pun dengan suaminya. Dia berfikir, dia dalam keadaan tertekan kali ini. Entah apa yang menyebabkan dia seperti itu.
Halimah masih membawa Al Qur’an ditangannya. Lalu ia memasukkan kembali ke tasnya itu.
Halimah memandangi pemandangan disepanjang jalan menuju tempat ia bekerja. Melewati sawah-sawah bertanamkan jagung, menyusuri jalan pedesaan yang bias dikatakan ramai.
45 menit perjalanan, sampailah mereka disuatu tempat pemancingan, dengan plank bertuliskan “Warung Apung & Pemancingan ILHAM 01”. Pemancingan hari itu sangat ramai, karena hari itu hari minggu.
Segera diparkirlah motor Revo itu ditempat parker.
“Kok baru berangkat mbak Imah??” Tanya seorang penjaga parkir kepada Halimah.
“Iya mas, mari mas,” Halimah bergegas masuk.
Halimah adalah seorang yang ramah pada siapapun, termasuk tukang parkir.
“Titip yo mas,” Ucap laki-laki yang tadi memboncengkan Halimah.
“Sip mas Bambang”
“Ok, sekarang kita saksikan penyanyi kita yang telah kita tunggu dan nanti-nantikan, mbak Imah!!” Suara itu terdengar di sound system yang terletak persisi di tengah warung apug itu.
Seketika itu halimah maju dan menuju panggung dan langsung bernyanyi dangdut. Dia menyanyi  seperti ada paksaan, ada tekanan dalam batinnya, namun ia tutupi. Setelah Halimah menyanyikan 2 lagu, ia langsung duduk. Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Ia ingin ke kamar mandi. Lalu ia bergegas kekamar mandi yang terletak diantara mushola dan dapur. Beberapa saat, Halimah keluar dari kamar mandi dan berjalan diatas papan-papan yang tersusun rapi, seperti rumah gadang. Dia membuka tas nya mengambil sesuatu dari tas merah nya,mengambil dompet. Mengambil beberapa uang ribuan, lalu ia memasukkan ke kotak amal. Dia berhenti sejenak, ia lihat di mushola itubeberapa orang sedang beribadah. 1 jadi imam dan yang lainnya dibelakangnya. Halimah masih juga belum berpindah dari tempatnya. Ia memandangi lekat-lekat beberapa orang yang sedang melakukan sholat itu. Tiba-tiba Halimah meneteskan air mata.
“Kenapa aku menangis?” Tanya Halimah pada dirinya sendiri. Ia lalu mencuci muka di tempat wudlu. Beberapa orang yang sholat tadi sudah selesai,ada salah satu yang menghampiri Halimah.
“Mbak,mau sholat? Ini mukenanya silakan!” Ucap seorang wanita sebaya Halimah kepada Halimah.
“E..e.. ia terimakasih mbak!” Sambil tersenyum Halimah sedikit gagap menjawab. Mukenanya berwarna putih dengan rendra berwarna hijau itu dia terima, dia bingung, benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan disana.
Sementara itu dipanggung tempat Halimah tadi bernyanyi, Bambang, suami Halimah sedang menjadi MC. Dan didepan mushola kecil itu masih ada Halimah yang belum beranjak. Dengan pelan, ada keraguan Halimah melangkah menuju mushola. Ia mau masuk dengan kaki kanan terlebih dahulu, sepertinya Ia tahu adab memasuki tempat suci. Seperti mushola, Halimah sudah masuh, Ia menuju pojok mushola, didalam mushola masih ada seorang lelaki, sedikit lebih tua disbanding Halimah.
Halimah sedikit melirik ke lelaki itu, lelaki itupun demikian hingga akhirnya kedua mata insan itu bertemu. Lelaki itu langsung menunduk dengan berucap “Astagfirullah aladzim!”
Halimah masih memandangnya, Halimah masih membawa mukena yang diberikan seorang wanita tadi. Dia meletakkan mukena itu dialmari kembali sambil berkata “Aku belum siap. Maafkan aku!”
Sepertinya lelalki didepan Halimah, mendengar perkataannya. Seketika lelaki itu berbalik dan berdiri tepat didepan Halimah. “Assalamu’alaikum” Lelaki itu menyapa Halimah. “maaf mbak, saya tadi mendengar perkataan mbak, lalu saya kaget dan saya ingin bertanya dengan mbak. Tapi saya mohon maaf kalau saya lancing.”
“Wa’alaikumsalam” Halimah sedikit gugup dan gagap menjawab salam seorang muslim itu. “Saya  Halimah, penyanyi disini mas!” Halimah menjawab sambil menata nafas dan sikapnya.
“saya Very. Sepertinya lebihenak kalau berbincang sambil duduk.”
“Kita duduk dekat situ saja mas, kosong kok.” Keduanya munuju meja kosong disamping mushola.
“maafa mbak. Ehm, mbak Halimah, kenapa tadi mbak Halimah bilang kalau belum siap. Belum siap bagaimana mbak? Maaf daya lancing Tanya seperti itu!” Very yang pertama mengajak berbicara.
Halimah menjawab dengan senyuman. Lalu very kembali bertanya “Mengapa mbak Halimah tersenyum?”
“Tidak ada apa-apa. Perlu mas Very ketauhi, maaf ya! Saya itu bukan seorang muslim!”
“Masya Allah?? Maakan saya mbak Halimah, saya ndak tahu!”
“Tidak apa-apa, saya tadi juga sempat kaget ada wanita yang memberi saya mukena. Ehm, mas Very sudah sholat?”
“Sudah mbak!” Very menjawab, namun hanya menunduk, tidak berani menatap Halimah.
Namun tidak denagan Halimah. Halimah terus saja menatap mata Very.
“Mas Very ndak usah takut gitu! Kok nunduk terus??”
“Saya tidak takut mbak. Saya menunduk karena saya menjaga pandangan daya. Saya ingin menjaga mata saya dengan tidak memandang lawan jenis dengan nafsu.”
“Apakah islam mengajarkan seperti itu mas?” Tanya Halimah.
“Tentu mbak! Menurut pribadi saya islam itu sangat luar biasa, islam itu untuk semua zaman dan bagi seluruh alam”
“Maksudnya bagaimana mas Very?”
“Mbak Halimah, dalam Al Qur’an kitab suci saya, dijelaskan tentang berbagai hal, tentang perintah dan larangan, tentang kehidupan, hari kiamat dan berbagai hal lainnya mabak. Termasuk seperti menjaga pandangan kepada lawan jenis yang bukan mhram.”
“Saya masih bingung mas Very? Saya ini bukan muslim, namun saya tertarik dengan ajaran-ajaran muslim, saya kagum dengan  Al Qur’an. Saya membawa Al Qur’an dimanapun dan kapanpun” Halimah berkata seperti itu sembari mengeluarkan Al Qur’an dari tas merahnya.
“Subhanallah, mbak Halimah ini memang….. ehm, ndak jadi saja” Very sedikit kaget dengan perkataan Halimah tentang Alqur;an tadi.
“Saya ingin dapat membaca Al Qur’an mas? Oiya saya masih belum mengerti tentang menjaga pandangan itu mas, tolong jelaskan ya mas?”
“Mbak Halimah, dalam Alqu’an tentang pedoman antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram telah dijelaskan dalam surat An-Nur ayat 30 dan 31. A’udzubillahiminasayaitonirrajim bismillahirrohmanirrakhim, kulill mukminiina yaghuudhumin ab shorihim wayakhfadzu furujahum dzalika adz kalahum innallaha khabirum bima yash na’un. Artinya : katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesengguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Saya takut akan azab dan peringatan Allah mbak!”
Halimah mendengar itu sontak bertepuk tangan sambil berkata “keren Banget mas, saya sangat kagum dengan islam dan kitab sucinya. Jujur saya ingin sekali dapat membaca Al Qur’an. Dulu waktu saya masih SMA, pas saya masih seorang muslim saya belum bisa membacanya mas. Karena saya dlu sekolah tidak di madrasah atau sekolah umum. Tetapi diluar negeri mas.”
“Subhanallah, luar negeri mana mbak??”
“Di SMK Kristen 75, hehehe.” Lalu keduanya pun tertawa.
“Astagfirullah, sudah jam 2 mbak, maaf saya harus pergi, mau mengkuti pengajian di masjid jami’. Maaf mbak, Insaya Allah dapat dismbung lain waktu.”
“Ok mas Very. Sebenarnya saya masih banyak yang ingin saya tanyakan sama mas Very. Terima kasih ya mas atas penjelasannya. Sangat mengesankan.”
“Sama-sama mbak Halimah” Very segera berdiri dan berjalan menyusuri jalan dari papan-papan kayu itu.
Halimah segera menuju ke panggung kembali.
“Darimana tho? Ditunggu malah kemana aja kamu ini. Mau pulang ndak?” Tanya Bambang pada istrinya.
“Iya pak, mari pulang!”
Keduanya langsung bergegas meninggalkan panggung dan menuju ke tempat parkiran.
Akulah para pencarimu Ya Allah………..
Dering itu terdengar dari HP Halimah.
“Hallo” Halimah mengangkatnya.
“Ini ibu nduk, gimana kabarmu? Gimana Bambang?” terdengar suara seorang wanita dari HP halimah.
“Baik bu, ibu gimana?”
“Alhamdulillah, baik juga nduk, piye Bambang? Masih sering gebukin kamu?”
“Ya seperti inilah bu, tapi Halimah ikhlas kok bu!”
“Kok suaramu sayu sekali, kamu lagi sakit ya nduk?” Tanya ibu itu kepada Halimah.
“Ndak kok bu. Bu??”
“Iya nduk , ada apa?”
“Saya ingin seperti dulu, saya ingin seperti ibu!” Halimah sambil terisak, air mata mengalir di kedua mata beningnya.
“Seperti dulu gimana nduk?” Tanya ibu agak bingung.
“Saya ingin kembali muslim bu, saya ingin menjadi mua’allaf” kata khalimah sambil menangis.
Halimah semakin terisak, kembali air mataya meleleh di pipinya.
“Kamu sudah bilang sama suamimu nduk? Menurut ibu, yang terbaik buatmu itu yang bias menentukan ya Cuma kamu. Ibu hanya bisa mendukung dan berdo’a. Sudahlah, kamu jangan menangis seperti itu. Sudah.”
“Iya Bu, terimakasih.”
“Ya sudah, sebaiknya kamu bilang sama suamimu. Bagaimana baiknya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Salam buat bapak ya bu.”
Setelah telepon mati, Halimah langsung keluar, duduk di kursi depan rumah. Kursi kayu, berwarna coklat tua lalu ia pandangi langit.
“Mendung, kelam, seperti mata hatiku, aku ingin kembali terang. Aku ingin seperti dulu. Aku sesak dengan semua ini. Aku sesak dengan semua sikap Bambang kepadaku. Aku sesak dengan polah tingkah Bambang yang begitu menyakitiku.”
Halimah berbicara sendiri dengan malam yang dingin, dimalam berawan mendung, tak ada bintang, apalagi bulan.
Ia teringat kata-kata Very, “Islam itu sangat luar biasa. Islam itu untuk semua zaman dan bagi seluruh alam.”
Kata-kata itu yang sedang ia pikirkan. Kata-kata itu yang selalu terbayang.
“Islam memang sungguh luar biasa. Aku ingin menjadi salah satu didalamnya kembali.”
Halimah adalah anak seorang petani. Dari kecil ia telah di didik dengan cara islam, karena kedua orang tuanya seorang muslim. Hingga berumur 17 tahun, Halimah menjadi muslim. Namun, ketika dilamar Bambang, pemuda yang dulu begitu ia cintai, ia menjadi tidak muslim lagi. Ia berpindah agama seperti Bambang, karena paksaan Bambang.
Hari minggu selanjutnya pun tiba, seperti aktifitas biasanya. Halimah dan Bambang menuju ke tempat mereka bekerja sebagai penghibur di pemancingan. Dulu Halimah mengenal Bambang bukan seperti Bambang sekarang, dulu Bambang adalah seorang yang sabar, pengertian, perhatian, rajin, bisa menjaga nama baik, dan tidak kasar, namun ternyata setelah Halimah menjalin hubungan, rumah tangga bersama Bambang selama satu tahun, semua terasa berbeda.
Kelakuan si kucing garong……………
Lagu itu terdengar di sound system di panggung itu, itu suara Halimah.
Tiba-tiba ada Bapak-bapak sekitar 45 tahun dating menghampiri Halimah.
“Mbak tak sawer yoh…….”
Halimah hanya tersenyum sambil terus menyanyi.
“Aku pilih ya mbak tempatnya,yo asik”
Bapak tua itu memberikan uang kepada Halimah sambil berjoget, namun Halimah kaget setengah mati ketika bapak tua itu meletakkan uang saweran tidak pada tempatnya, seketika Halimah mendorong bapak tua itu. bapak yang mungkin sedikit agak tidak waras hanya tersenyum dan berlalu.
Halimah telah menyanyikan beberapa lagu, jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Halimah langsung bergegas ke mushola seperti janjinya minggu kemarin. Ia akan bertemu dengan Very, seorang ustadz yang seminggu lalu sedikit menjelaskan tentang menjaga pandangan.
“Assalamu’alaikum” kali ini Halimah yang mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam” Very menjawab dengan senyum yang sangat ramah.
“Mas Very bagaimana kabarnya?”
“Baik, Alhamdulillah, gimana kabarnya mbak Imah?”
“Baik, tapi tidak terlalu baik. Hehehe, mas Very saya ingin minta tolong dijelaskan tentang Islam yang luar biasa itu.”
“Baik mbak, Islam itu luar biasa:
Islam itu untuk semua zaman, seperti yang tercantum dalam Al Qur’an surat An-Nahl ayat 35 yang artinya: Dan sesungguhnya, Kami mengutus Rosul pada tiap-tiap umat. Sembahlah Allah saja dan jauhilah tagut itu
Tagut adalah setan dan apa saja yang disembah selain Allah SWT
Islam itu rahmat bagi seluruh alam.
Islam juga mengatur semua fase kehidupan manusia. Mulai dari kandungan, lahir, anak, remaja, dewasa, mati.
Ajaran Akidah Islam pun juga menyeluruh mbak. Tentang semua hal, manusia, Tuhan, alam, hari pembalasan, dll.
Dan yang terakhir, ajaran akhlak Islami yang universal salah satunya yang sufah saya jelaskan minggu lalu itu mbak.”
Panjang lebar penjelasan dari Very.
Halimah menitikkan air mata.
“Mbak Imah kenapa?” Tanya Very kepadanya.
“Tak apa mas.” Jawab Halimahsesenggukan dengan menunduk, lalu Ia bangunkan kepalanya itu menatap gadis yang lewat disamping nya.
“Aku ingin seperti dia Mas.” Sambil menunjuk gadis berjilbab biru muda yang baru saja lewat.
“Subhanallah, mbak Imah ingin seperti dia? Itu juga merupakan salah satu ajaran Islam untuk menutup aurat. Yang bisa merubah dan memperbaiki diri mbak Imah adalah diri Mbak Imah sendiri.”
Tiba-tiba Bambang datang dan langsung menarik tangan Halimah.
“Ayo pulang! Ternyata kamu selingkuh di belakangku.” Ucap Bambang geram.
“Tidak Pak, aku bisa jelaskan.”
“Sudah ayo pulang .” Halimah di tarik secara paksa oleh Bambang dan Very pun menyaksikan kejadian tersebut.
Dirumah sederhana ber cat biru muda kembali ada sedikit gemuruh.
“Plakk!” tamparan itu melanyang di pipi Halimah.
“Maafkan saya pak. Saya tadi cuman minta saran kepada mas Very.” Ucap Halimah sesenggukan, terisak air matanya.
“Very? O jadi mau selingkuh sama ustadz toh? Plakk..” kembali tamparan kedua melayang di pipi Halimah.
“Saya sudah tak kuat pak. Saya ingin seperti dulu, saya ingin kembali muslim.”
“Itu urusan mu, sudah bukan menjadi urusan ku.”
“Maafkan saya pak.”
“Terserah kau bu! Plakk..!” Bambang untuk yang ketiga kalinya menampar pipi Halimah. Namun ini yang terkeras. Sampai-sampai Halimah terkapar dan tas merah nya terjatuh, dan mengeluarkan seluruh barang yang ada didalamnya, berbagai alat kosmetik, dan tentu saja Al Qur’an.”
“Apa ini bu? Kau ini seperti pelacur! Mau dengan siapa saja!” Bambang sambil mengambil Al Qur’an kecil milik Halimah yang terjatuh dari tas nya.
Halimah tak bisa bicara, ia terkapar tak berdaya. Bambang telah mendzolimi istrinya sendiri.
“Apa ini bu?” Sambil menunjuk Al Qur’an ditangan nya.
Halimah hanya bisa menangis dan terisak.
“Gubrak!!” Bambang membuang Al Qur’an kecil itu dilantai dan menginjak-injaknya. Tak sampai disitu saja, bambang kembali mengambil Al Qur’an itu, ia geledahi sakunya, ia mencari sesuatu. Dapat! Aia mengambil korek api, seketika Bambang langsung menyulut Al Qur’an itu dengan korek api. Terbakarlah Al Qur’an milik Halimah.
“Ya Allah tolong saya.” Halimah berdoa dalam hati, ia masih saja menangis sesenggukan.
“Pergi kamu pelacur dari rumahku!!” suara Bambang seperti menyambar hati Halimah, Halimah minta maaf kepada Bambang namun tak dihiraukannya.
“Segeralah pergi kamu! Hanya bisa mengotori rumahku!”
Halimah langsung pergi meninggalkan Bambang.
Halimah tak tau harus pergi kemana. Ia ingat, ia tahu harus pergi kemana.
Ia berjalan menyusuri jalan jogja-solo, jalan menuju tempat ia bekerja.
Sesampai di pemancingan itu, Halimah langsung menuju mushola, Ia sangat bersyukur karena Very masih di mushola itu.
“Mas Very, hiks..hiks.” Halimah langsung duduk di depan Very dan Very pun sempat kaget, namun Very telah mengetahui jawabannya sebelum dijelaskan oleh Halimah.
“Jadikan aku seorang muslim mas!”
Mata Very terbelalak kaget bukan kepalang, hatinya berkata, “Subhanallah, akhirnya mbak Imah diberikan petunjuk.”
“Ikuti kata saya mbak. Asyhaduanlaa ilaa hailallah.”
“Asyhaduanlaa ilaa hailallah.” Halimah mengikuti kata-kata Very.
“Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh.” Very kembali melanjutkan kata-katanya.
“Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh.” Halimah kembali mengikuti kata-kata Very.
“Alhamdulillah mbak Imah, Insaya Allah mbak sudah kembali menjadi muslim.” Ucap Very.
“Alhamdulillah, terimakasih mas Very.”
Very hanya tersenyum.
“Mbak Imah ingin lebih cantik? Ehm, maaf maksud saya, mbak Imah ingin terlihat cantik di depan Allah?” Tanya Very sedikit was-was, takut salah pengertian.
“Ia mas, ingin sekali. Ingin sekali saya memperbaiki diri saya.”
“Baik mbak, saya punya adik daerah sini, namanya Siti Aisayah, mungkin mbak Imah bisa meminjam busana adik saya itu.”
“Tentu mas, saya akan sangat senang.”
“Assalamu’alaikum.” Salam terucap secara bersamaan dari mulut Halimah dan Very.
“Wa’alaikumsalam. O, mas Very silakan masuk.” Jawab seorang wanita muda dengan tersenyum.
“Iya nduk, terimakasih.” Ucap very.
“Wah kok rame-rame ada apa ini?”
“Begini dik, kenalan dulu ini mbak Halimah. Begini mbak Halimah adalah seorang muallaf dan ingin memperbaiki dalam tata cara berbusana. Tentu adik tau maksud mas Very kan?”
“Owh, tentu mas.” Ucap Aisayah seorah mengerti kata very.
“Mbak Halimah, mari silahkan kita kekamar sebentar.”
Beberapa saat keduanya di kamar, adik Very, Siti Aisayah berjilbab merah muda dan Halimah yang sebelumnya belum berjilbab keluar dengan busana muslim dengan jilbab putih.
“Subhanallah!” ucap Very, namun itu tak lama memandangi Halimah.
Halimah memang ayu, apalagi memakai jilbab.
“Terimakasih dik Aisayah!” Halimah menjabat tangan Aisayah.
“Sama-sama mbak.” Aisayah mengucapkan terimakasih kembali.
“Kalau begitu saya pulang dulu, saya akan bicara dengan suami saya. Sekali lagi terimakasih banyak ya dik Aisayah dan as Very. Saya pulang dulu.”
“Iya mbak, sama-sama, tugas sesama muslim adalah saling membantu.”
“Assalamu’alaikum” Ucap Halimah.
“Wa’alaikumsalam”  Balas Very dan Aisayah hampir bersamaan.
“Assalamu’alaikum” Ucapan salam dari seorang wanita sembari mengetuk pintu rumah bercat biru muda.
“Siapa?? Bentar.” Suara keras terdengar dari dalam rumah.
Ketika Bambang membuka pintu, betapa kaget dan tidak diduganya. Wanita itu adalah Halimah. Halimah memakai busana muslim berwarna biru muda dan memakai jilbab putih.
“Assalamu’alaikum pak.”
Bambang masih termangu dan tidak percaya bahwa itu Halimah, istrinaya yang sudah di usirnya.
Ia terlihat lebih cantik dengan balutan jilbab putih itu. (Subhanallah).

Saturday, September 22, 2012

Resensi Buku : Demi Waktu


Buku Demi Waktu: So, Use Your Time Effectively ini merupakan goresan inspirasi untuk mengingatkan kita agar memanfaatkan waktu dengan baik! Lingkar efektifitas waktu, yang sehari-hari kita lalui dapat menjadi goresan nilai berharga, jika detak-detak waktu tersebut diisi dengan hal-hal yang baik. Dialah, untuk: 1) Time to Positive Life, 2) Time to Listen, 3) Time to Write, 4) Time to Read, 5) Time to Think, 6) Time to Dream, 7) Time to Do, 8) Time to Party and Relax, 9) Time to Love, dan 10) Time to Share; waktu-waktu ini diisi dengan hal-hal baik, agar tercipta momentum "kebaikan".
Judul Demi Waktu
ISBN / EAN 9789792281330 / 9789792281330
Author Antoni Ludfi Arifin
Publisher Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish 08 Maret 2012
Pages 116
Weight 250 gram
Dimension (mm) 140 x 210

 
Blogger Wordpress Gadgets